Tuesday, 15 April 2014

PENGENALAN PROFIL TANAH

BAB 1
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan
       Profil dari tanah mineral yang telah berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison, horison-horison tersebut diantaranya yaitu :
1.  Horison O adalah horison yang terdiri dari bahan serasah atau sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa). Horison ini ditemukan terutama pada tanah-tanah hutan yang masih utuh. Merupakan horison organik yang terbentuk diatas lapisan tanah mineral
2.   Horison A1 adalah horison mineral berbahan organik tanah (BOT) tinggi sehingga berwarna agak gelap. A2 – Horison dimana terdapat pencucian (eluviasi) maksimum terhadap liat, Fe, A dan bahan organik. A3 – Horison peralihan ke B, lebih menyerupai A. Horison dipermukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral. Merupakan horison eluvasi, yaitu horison yang mengalami pencucian.
3.  Horison E adalah horison mineral yang telah tereloviasi (tercuci) sehingga kadar BOT, liat silikat, Fe dan Al rendahtetapi kadar pasir & debu kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi serta berwarna terang.
4.  Horison B adalah horison illuviasi yaitu horison akumulasi bahan eluvial dari horison diatasnya.
5.  Horison C adalah lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk atau belum terjadi perubahan secara kimiawi.
6.  Horison R adalah batuan keras yang belum dilapuk sehingga tidak dapat ditembus akar tanaman.
Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat lubang dengan ukuran panjang, dan lebar serta kedalam tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tanah merupakan tubuh alam yang terbentuk dan berkembang akibat terkena gaya-gaya alam ( natural forces ) Terhadap proses pembentukan mineral, serta pembentukan dan pelapukan bahan-bahan koloid.
Contoh tanah dibedakan atas beberapa macam tergantung pada tujuan dan cara pengambilan. Bila contoh tanah diambil pada setiap lapisan untuk mempelajari perkembangan profil menetapkan jenis tanah maka disebut “contoh tanah satelit”. Contoh tanah yang diambil dari beberapa tempat dan digabung untuk menilai tingkat kesuburan tanah disebut “contoh tanah komposit”. Pengambilan contoh tanah secara komposit dapat menghemat biaya analisis bila dibandingkan dengan pengambilan secara individu ( Peterson dan calvin, 1986 ). Adalagi contoh tanah yang diambil dengan pengambilan sampel (care) dan disebut dengan contoh tanah utuh, yang biasanya digunakan untuk menetapkan sifat tanah disebut contoh tanah utuh karena strukturnya asli seperti apa adanya di lapangan sedangkan contoh tanah yang sebagian atau seluruh strukturnya telah rusak disebut contoh tanah terganggu.
Pengamatan profil meliputi pengamatan dalam profil itu sendiri, dan pengamatan faktor sekeliling yang mempengaruhi proses pembentukan tanah. Yang termasuk faktor sekeliling antara lain yaitu vegetasi, kedalaman air tanah, topografi, usaha tani, ada tidaknya faktor penghambat seperti bahaya banjir, erosi, salinitas, keadaan berbatu dan sebagainya.

B.      TUJUAN
Mengetahui atau mengenal suatu jenis tanah, dan untuk mengamati horizon-horizon tanah.

BAB 2
 TINJAUAN PUSTAKA
Profil Tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran (panjang dan lebar) tertentu dan kedalaman yang tertentu pula sesuai dengan keadaan keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tekanan pori diukur relative terhadap tekanan atmosfer dianamakan muka air tanah. Tanah yang diasumsikan jenuh walaupun sebenarnya tidak demikian karena ada rongga-rongga udara (Pasaribu, 2007).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah yaitu :
1.               Bahan Induk
Keadaan alami bahan induk akan mempunyai pengaruh terputus pada sifat-sifat tanah muda, mereka dapat memakai satu pengaruh pada tanah-tanah tua yang ada. Sifat bahan induk yang memakai satu pengaruh yang mendalam pada perkembangan tanah, termasuk tekstur, komposisi mineral, dan tingkat stratifikasi. Pembentukan tanah dapat dimulai segera setelah penimbunan abu vulkanik tetapi harus menunggu penghancuran batuan keras secara fisik dimana granit dibuka. Selama stadia awal pembentukan tanah, penghancuran dapat membatasi laju dan kedalaman perkembangan tanah, dimana laju dan penghancuran batuan melebihi laju perpindahan bahan oleh erosi tanah-tanah produktif dengan solum tebal dapat  berkembang dari batuan dasar (Foth. H.D, 1988).
2.               Iklim
Pengaruh iklim yang penting yang mempengaruhi pembentukan tanah adalah presipitasi dan temperature. Iklim juga mempengaruhi pembentukan tanah secara tidak langsung yang menentukan vegetasi alami. Tidaklah terlalu mengejutkan bahwa terdapat beberapa penyebaran iklim, vegetasi dan tanah yang paralel di permukaan bumi. Setiap kenaikan 10°C akan menaikkan laju reaksi kimia dua sampai tiga kali. Meningkatnya pelapukan dan kandungan liat terjadi dengan meningkatnya rata-rata temperatur tanah. Rupanya hanya tanah-tanah yang sangat muda yang mempunyai pengaruh iklim yang konstan selama genesa tanah (Foth. H.D, 1988).

3.               Organisme
Tanaman mengabsorbsi unsur hara dari tanah dan mengangkut nutrien ketajuk tanaman, bila tajuk mati dan jatuh ke permukaan tanah perombakan bahan organik akan melepaskan unsur hara untuk kesuburan dirinya sendiri (Foth,1988).
Profil tanah rumput mengandung lebih banyak bahan organik terdistribusi lebih uniform di dalam tanah daripada tanah hutan. Tanah dengan vegetasi hutan mempunyai kira-kira separuh dari kandungan bahan organik dan terdistribusi tidak merata dengan tingkat perkembangan profil tanah lebih sempurna. Horizon-horizon pada solum lebih asam dan % jenuh basa yang rendah dan lebih banyak liat yang dipindahkan dari horizon A ke horizon B (Buckman&Brady,1982).

4.               Topografi
Topografi mengubah perkembangan profil tanah dalam tiga cara, yaitu :
a.              Dengan mempengaruhi jumlah presipitasi yang diabsorbsi dan ditahan dalam tanah,oleh karenanya mempengaruhi kelembaban
b.              dengan mempengaruhi kecepatan perpindahan tanah oleh erosi
c.              dengan mengarahkan gerakan bahan-bahan dalam suspensi atau larutan dari daerah yang satu ke daerah yang lain (Foth. H.D, 1988)
            Hasil pelapukan batuan-batuan yang bercampur dengan sisa batuan dari organisme yang hidup diatasnya. Selain itu, terdapat pula udara dan air didalam tanah. Air dalam tanah berasal dari air hujan yang ditahan oleh tanah sehingga tidak meresap ketempat lain, disamping pencampuran bahan organik didalam proses pembentukan tanah, terbentuk pula lapisan-lapisan tanah. (Hardjowigeno, 1985).
            Pembentukan lapisan atau perkembangan horizon dapat membangun tubuh alam yang disebut tanah. Tiap tanah dicirikan oleh susunan tertentu horizon. Secara umum dapat disebutkan bahwa setiap profil tanah terdiri atas dua atau lebih horizon utama. Tiap horizon dapat dibedakan berdasarkan warna, tekstur, struktur dan sifat morfologis lainnya. (Pairunan, 1985).
            Menurut Hanafiah (2007), berdasarkan pembentukannya, bebatuan ini dikelompokkan menjadi  3 golongan yaitu:
1.      Batuan beku (igneous rock) yang merupakan bebatuan yang terbentuk dari proses solidifikasi (pembekuan) magma cair. Apabila proses pembentukannya terjadi jauh dibawah tanah, maka bebatuan yang terbentuk disebut plutonik (batuan dalam), disebut intrusi (batuan gang) jika pembekuannya terjadi didalam liang-liang menuju permukaan tanah, dan disebut ekstrusi (batuan vulkanik atau lelehan) jika pembekuannya terjadi dipermukaan tanah.
2.      Batuan sedimen (sedimentary rock) merupakan bebatuan yang terbentuk dari proses konsolidassi (pemadatan) endapan-endapan partikel yang terbawa oleh angina atau air dibawah permukaan bumi.
3.      Batuan peralihan (metamorf) yang merupakan batuan beku atau batuan sedimen yang telah mengalami transformasi (perubahan rupa) akibat adanya pengaruh perubahan suhu, tekanan, cairan atau gas aktif.

BAB 3
METODE PRAKTIKUM

A.  ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan pada praktikum Acara VI. Pengenalan Profil Tanah ini antara lain Bor tanah, abney level (clinometer) untuk mengukur kemiringan tanah, kompas, altimeter, pH saku, botol semprot, kertas label, meteran, buku Munsell Soil Color Chart, Kantong Plastik, Spidol, buku pedoman pengamatan tanah di lapang, dan daftar isian profil.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah larutan H2O2 3%, larutan HCL 10%, larutan αα-dipridil dalam 1N NH4Oac neteral, akuades dan lahan pengamatan.
B.  PROSEDUR KERJA
1.  Tempat pembuatan profil dipilih, sebelumnya dilakukan pengeboran (boring) ditempat-tempat sekitar profil yang akan dibuat sedalam 1 meter pada 2 atau 3 tempat berjarak 1meter, yang berguna supaya tercapai keseragaman.
2.   Lubang yang telah digali sedemikian rupa sehingga terbentuk profil tanah dengan ukuran panjang 2m, lebar 1,5m. Didepan bidang pengamatan profil dibuat tangga (trap) ke bawah untuk memudahkan pengamata

BAB 4
 HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  HASIL PENGAMATAN
Nomor Lapisan
1
2
3
4
5
Dalam lapisan
0-24 cm
24-42 cm
42-64 cm
         64-88 cm
82-112 cm
Simbol Lapisan
O
A1
A2
B1
B2
Batas Lapisan
a
b
c
d
a
b
c
d
a
c
g
d
a
b
c
d
a
b
c
d
Batas Topografi
s
w
i
b
s
w
i
b
s
w
i
b
s
w
i
b
s
w
i
b
Warna Tanah (matriks)
10 YR 3/4
5 YR 3/4
10 YR 2/2
7,5 YR/SR
7,5 YR 3/4
Tekstur Tanah
S
Gr
l
s
Gr
l
S
Gr
l
s
Gr
l
s
Gr
L
Cl
Cl
Cl
Cl
Cl
Si

Si

Si

Si

Si

Struktur tanah
0
1
2
3
Vf
F
M
C
Vc
Pl
P
Cp
Ab
B
Sb
G
Cr
L
m
0
1
2
3
VT
F
M
C
Vc
Pl
P
Cp
Ab
B
Sb
G
Cr
L
m
0
1
2
3
Vf
F
M
C
Vc
Pl
P
Cp
Ab
B
Sb
G
Cr
L
m
0
1
2
3
Vf
F
M
C
Vc
Pl
P
Cp
Ab
B
Sb
G
Cr
L
m
0
1
2
3
Vt
F
M
C
Vc
Pl
P
Cp
Ab
B
sb
G
Cr
L
M
Konsistensi
B
L
K
B
L
K
B
L
K
B
L
K
B
L
K
So
Ss
Vs
P0
Ps
Vp
P
L
Vf
f
t
vt
et
L
S
Sh
H
Vh
eh
So
S
Vs
P0
Ps
Vp
p
L
Vf
f
t
vt
et
L
S
sh
H
Vh
eh
So
S
Vs
P0
Ps
Vp
P
L
Vf
f
t
vt
et
L
S
Sh
H
Vh
eh
So
Ss
Vs
P0
Ps
Vp
p
L
Vf
f
t
vt
et
L
S
Sh
H
Vh
eh
So
Ss
Vs
P0
Ps
Vp
p
L
Vf
f
t
vt
et
L
S
Sh
H
Vh
eh
pH tanah (lapang)
5,5
6
5,5
5
5,5
Perakaran
Halus
Kasar
Banyak
Sedang
Sedang
Sedikit
Sedikit
Sedikit
Halus Sedikit
Sampai:0-20 cm

Reaksi terhadap HCL             Tidak ada        Tidak ada        Tidak ada        Tidak ada        Tidak ada
Reaksi terhadap H2O2                 Banyak            Banyak            Banyak            Banyak            Sedikit

B.     PEMBAHASAN
Tanah adalah lapisan nisbi tipis pada permukaan kulit bumi.  Sedangkan profil tanah didefinisikan sebagai irisan vertikal tanah dari lapisan atas hingga ke bahan induk tanah.  Profil dari tanah mineral  yang  telah berkembang lanjut biasanya memiliki horizon-horizon sebagai berikut ; O-A-E-B-C-R (Hakim, , dkk.1982).
Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat lubang dengan ukuran panjang dan lebar serta kedalaman tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tanah merupakan tubuh alam yang terbentuk dan berkembang akibat terkena gaya-gaya alam (natural forces) terhadap proses pembentukan mineral. Pembentukan dan pelapukan bahan-bahan organik pertukaran ion-ion, pergerakan dan pencucian bahan-bahan koloid (Wahyuaskari, 2011).
1.      Warna Tanah
            Suatu profil tanah terdiri dari horizon-horizon dengan warna beragam antara horizon dan dalam satu horizon. Pada pemerian profil tanah, warna setiap horizon itu haruslah diperi secara lengkap. Pemberian warna tanah juga perlu memperhatikan hubungan antara pola warna dengan struktu tanah kesarangan tanah. Agregat tanah yang disidik perlu di hancurkan untuk memastikan apakah warna tanah tampak itu seragam diseluruh agregat. Buku Munsell Soil Color Chart merupakan buku pedoman pemberian warna tanah yang dipublikasikan oleh Badan Pertanian Amerika Serikat (USDA) (Poerwidodo, 1991).
2.      Tekstur Tanah
            Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang terkandung pada tanah (Badan Pertanahan Nasional). Dari ketiga jenis fraksi tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 – 0,05 mm, debu dengan ukuran 0,05 – 0,002 mm dan liat dengan ukuran <0,002 mm (penggolongan berdasarkan USDA). Keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap keadaan sifat-sifat tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas tanah, porositas dan lain-lain (
3.      Struktur Tanah
            Struktur tanah menunjukkan kombinasi atau susunan partikel-partikel tanah primer (pasir, debu, dan liat) sampai pada partikel-partikel sekunder atau ped disebut juga agregat. Struktur suatu horizon yang berbeda satu profil tanah merupakan satu ciri penting tanah, seperti warna tekstur atau komposisi kimia. Struktur mengubah pengaruh tekstur dengan memperhatikan hubungan kelembaban udara. Struktur berkembang tidak dari satu butir tunggal maupun dari keadaan pejal (Foth, 1998).
4.      Konsistensi Tanah
            Konsistensi adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antara partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah. Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain (Hardjowigeno, 1992).
5.      pH Tanah
            pH tanah menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Bila kandungan H+ sama dengan OH maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7 (Hardjowigeno, 2010).
            Larutan HCl digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan kapur pada tanah, jika tanah berbuih berarti terdapat kandungan kapur di dalam tanah. Sementara Larutan H2O2 digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan bahan organik pada tanah, jika tanah berbuih berarti terdapat kandungan bahan organik di dalam tanah.
            Horizon tanah adalah lapisan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan bumi dan mempunyai ciri-ciri tertentu (khas). Profil dari tanah yang berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison tanah. Pembentukan lapisan atau perkembangan horizon dapat membangun tubuh alam yang di sebut tanah.
Horison tanah (lapisan) : Tanah terdiri dari lapisan berbeda horisontal, pada lapisan yang disebut horizons. Mereka mulai dari kaya, organik lapisan atas (humus dan tanah) ke lapisan yang rocky (lapisan tanah sebelah bawah, dan regolith bedrock).

Empat lapisan teratas yang masih dipengaruhi cuaca disebut Solum Tanah, horizon O – A disebut lapisan tanah atas dan horizon E – B disebut lapisan tanah bawah.
1.      Horizon O adalah horizon yang terdiri dari bahan serasa atau sisa-sisa tanaman dan bahan organik tanah hasil dekomposisi serasa.
2.      Horizon A adalah horizon mineral berbahan organik tanah tinggi sehingga berwarna agak gelap.
3.      Horizon E adalah horizon mineral tercuci sehingga kadar , liat silikat, Fe. Al rendah tetapi kadar pasir dan debu kuarsa serta mineral resistsen lainnya tinggi dan berwarna terang.
4.      Horizon B adalah horizon illuviasi yaitu horizon akumulasi bahan eluvial dari horizon di atasnya.
5.      Horizon C adalah lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk atau belum terjadi  perubahan secara kimiawi.
6.      Horizon R adalah bahan batuan induk tanah (Hanafiah, 2007).
Dalam praktikum kali ini tentang pengenalan profil tanah hal yang diamati yaitu kedalaman lapisan tanah, batas lapisan tanah, batas topografi, warna tanah (matriks), tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, pH tanah (lapang), perakaran, reaksi terhadap HCL, reaksi terhadap H2O2. Dengan cara memilih tempat pembuatan profil yang sebelumnya dilakukan dengan menggali tanah sedalam 1 meter pada 2 atau 3 tempat berjarak 1 meter, yang berguna untuk tercapai keseragaman. Selanjutnya menggali sedemikian rupa sehingga terbentuk profil tanah dengan ukuran panjang 2 m, lebar 1,5 m dan kedalaman 1,5 m. Selanjutnya mulailah untuk mengamati kedalaman lapisan tanah, batas lapisan tanah, batas topografi, warna tanah (matriks), tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, pH tanah (lapang) dan perakaran.
Yang pertama kedalaman lapisan. Lapisan l memiliki kedalaman 0-24 cm, lapisan II 24-42 cm, lapisan III 42-64 cm, lapisan IV 64-88 cm dan lapisan V 88-112. Perbedaan lapisan ini merupakan salah satu sifat fisik tanah yang terdiri dari lapisan-lapisan atau horizon. Batas suatu horizon dengan horizon lainnya dalam suatu profil tanah dapat terlihat jelas atau baur. Hal ini sesuai dengan pendapat Pairunan (1983) yang menyatakan bahwa dalam pengamatan tanah dilapangan ketajaman peralihan horizon ini dibedakan kedalam beberapa tingkatan yaitu nyata lebar perlaihan kurang dari 2,5 cm, jelas lebar peralihan 2,5-6,5 cm, berangsur lebar peralihan 6,5-12,5 cm, dan baur l ebar peralihan lebih dari 12,5 cm.
Topografi batas lapisan I hingga lapisan V memiliki topografi yang berombak. Adanya batasan dan topografi lapisan-lapisan ini sesuai dengan pendapat Kartasaputra dan Mulyani (1987) yang menyatakan bahwa lapisan-lapisan yang terbentuk pada profil dapat dikatakan tidak selamanya tegas dan nyata tetapi kerap kali batasannya agak kabur atau berombak.
Tekstur pada lapisan I lempung berliat, Lapisan II ialah lempung liat berdebu, lapisan III ialah lempung berdebu, lapisan IV lempung berliat dan lapisan V lempung berliat. Penentuan tekstur tanah ini didapatkan dari hasil uji feeling di lapangan dengan memijit tanah basah diantara jari-jari. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno (1987) yang menyatakan bahwa di lapangan, tekstur tanah dapat ditentukan dengan memijit tanah diantara jari-jari, sambil dirasakan halus dan kasarnya yang dirasakan adanya butir-butir pasir, debu dan liat.
Untuk yang ke enem yaitu mengenai struktur tanah dalam praktek di lapangan di peroleh struktur tanah tiap lapisan agak berbeda. Pada lapisan I memiliki struktur tanah sedang (M) dan lemah (1), lapisan II berstruktur halus(F) dan lemah (1), lapisan III berstruktur sedang (M) dan cukupan (2),lapisan IV berstruktur sangat lembut (VF) dan lemah (1) dan lapisan V memiliki struktur sangat halus (VF) dan cukupan (2). Menurut Hardjowigeno (1987) gumpalan-gumpalan kecil ini mempunyai bentuk, ukuran dan kemantapan yng berbeda-beda
Yang ketujuh tentang Konsisitensi tanah pada setiap lapisan berbeda. Pada lapisan I konsisitensi tidak lekat (so); sangat gembur (vf) , dan lunak (s), lapisan II konsistensi tanah lekat (s); sangat teguh (vt), dan lunak (s),  konsistensi tanah pada lapisan III lekat (s); sangat teguh (vt); dan agak keras (sh), konsistensi tanah pada lapisan IV agak lekat (ss) dan sangat teguh (vt), dan konsistensi tanah pada lapisan V tak lekat (so); sangat teguh (vt); dan agak keras (sh). Menurut Hardjowigeno (1987) tanah basah adalah tanah dengan kandungan air mendekati kapasitas lapang, tanah lembab adalah tanah kering yang tanah dengan kandungan air mendekati kapasitas.
Selanjutnya yang kedelapan pH tanah (lapang) Reaksi tanah (pH) perlu diketahui karena tiap tanaman memerlukan lingkungan pH tertentu. Ada tanaman yang toleran terhadap goncangan pH yang panjang, tetapi ada pula tanaman yang tidak toleran terhadap goncangan pH. Di samping berpengaruh langsung terhadap tanaman, pH juga mempengaruhi faktor lain, misalnya ketersediaan unsur, kelarutan Al dan Fe tinggi. Akibatnya, pada pH sangat rendah pertumbuhan tanaman tidak normal karena suasana yang tidak sesuai, kelarutan beberapa unsur menurun, ditambah lagi dengan adanya keracunan Al dan Fe (Rosmarkam, 2002)
Potensial of Hidrogen (pH) dibagi dalam 3 katagori:
1.      pH<5  maka dikatagorikan Asam.
Jika tanahnya  asam maka unsur hara akan terlepas keluar dari tanah, dan tanaman akan sulit tumbuh.
2.      pH>8 maka dikatagorikan Basa.
Jika tanahnya basa maka tanah memang banyak mengandung unsur hara akan tetapi masih terikat dan tidak mudah tersedia untuk digunakan oleh tanaman.
3.      5<pH<8  maka dikatagorikan Netral , inilah keadaan tanah dalam kondisi yang baik sekitar:  6,5-7.
Sebagai contoh: pH tanah diumpamakan sebagai lambung manusia, bila terlalu asam tentu lambung tidak akan bekerja dengan baik , begitu pula dengan tanah , maka yang terbaik adalah pH netral sekitar 6,5 – 7.
            pH yang didapat dari lapisan I adalah 5,5, lapisan II 6 , lapisan III 5,5  lapisan IV 5 dan lapisan V 5,5. Maka dari hasil yang didapat pH tanah yang kami uji dikategorikan ke dalam tanah netral, karena pH tanah berkisar 5-6. 
Dan yang terakhir terakhir tentang perakaran Tanah adalah tempat tumbuh bagi tanaman. Di lapangan pertanian tanah adalah alat produksi untuk menghasilkan hasil pertanian. Sebagai alat produksi pertanian, maka tanah berfungsi sebagai tempat tegak tanaman, sebagai tempat persediaan air dan udara sehingga akar dapat bernafas dan menghisap makanan dari dalam tanah. 

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan :
1. Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat lubang dengan ukuran panjang dan lebar serta kedalaman tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitian   
2. Tiap – tiap lapisan pada profil tanah berbeda, mulai dari warna ; tekstur ; struktur ; konsistensi ; pH tanah dll.
3. Selain itu, ada juga larutan HCL yang digunakan untuk mengetahui kandungan kapur dari dalam tanah, sama halnya dengan H2O2 ditandai dengan keluarnya buih dari dalam tanah.
B. SARAN
            Sebaiknya ketika praktikum harus lebih teliti lagi dalam pengukuran maupun pengamatanya. Dan haris berhati- hati untuk pengukuran ph tanah dengan mencampurkan sampel tanah dengan larutan H2O2.
  
DAFTAR PUSTAKA

Buckman,Harry O.1982.Ilmu Tanah.Bhratara Karya Aksara: Jakarta
Foth, Henry D. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Hakim, , dkk.1982. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas
Hanafiah, Kemas A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Pt. Raja Grafindo Persada :              Jakarta.
Hardjowigeno, S. 1985. Ilmu Tanah. Akademik Pressindo, Jakarta.
Hardjowigeno, S . 1987. Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika Pressindo
Hardjowigeno, S . 2010. Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika Pressindo
Kartasapoetra. 1987. Ilmu Tanah Umum. Bagian Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran. Bandung.
Pairunan. A. K. dkk. 1985. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Ujung Pandang: BKPT        INTIM
Pasaribu.2007.http://www.scribd.com/doc/13977716/Alfisol-Dan-Oxisol.Diakses
 tanggal 3 April  2014.
Poerwowidodo. 1991. Genesa Tanah. Rajawali. Jakarta.
Wahyuaskari. 2011. PROFIL TANAH.