BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tanah adalah
lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi
sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya
tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi
berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan
anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu,
Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai
habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara
tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang
ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk
menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan,
industri perkebunan, maupun kehutanan
Profil dari tanah mineral yang telah berkembang lanjut biasanya memiliki
horison-horison, horison-horison tersebut diantaranya yaitu :
1. Horison O adalah horison yang
terdiri dari bahan serasah atau sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah
(BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa). Horison ini ditemukan terutama pada
tanah-tanah hutan yang masih utuh. Merupakan horison organik yang terbentuk
diatas lapisan tanah mineral
2. Horison A1 adalah horison
mineral berbahan organik tanah (BOT) tinggi sehingga berwarna agak gelap. A2 –
Horison dimana terdapat pencucian (eluviasi)
maksimum terhadap liat, Fe, A dan bahan organik. A3 – Horison peralihan ke B,
lebih menyerupai A. Horison dipermukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan
organik dan bahan mineral. Merupakan horison eluvasi, yaitu horison yang
mengalami pencucian.
3. Horison E adalah horison mineral
yang telah tereloviasi (tercuci) sehingga kadar BOT, liat silikat, Fe dan Al
rendahtetapi kadar pasir & debu kuarsa (seskuoksida)
dan mineral resisten lainnya tinggi serta berwarna terang.
4. Horison B adalah horison
illuviasi yaitu horison akumulasi bahan eluvial dari horison diatasnya.
5. Horison C adalah lapisan
yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk atau belum terjadi
perubahan secara kimiawi.
6. Horison R adalah batuan
keras yang belum dilapuk sehingga tidak dapat ditembus akar tanaman.
Profil tanah merupakan suatu irisan
melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat lubang dengan ukuran
panjang, dan lebar serta kedalam tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan
keperluan penelitian. Tanah merupakan tubuh alam yang terbentuk dan berkembang
akibat terkena gaya-gaya alam ( natural forces ) Terhadap proses pembentukan
mineral, serta pembentukan dan pelapukan bahan-bahan koloid.
Contoh tanah dibedakan atas beberapa macam
tergantung pada tujuan dan cara pengambilan. Bila contoh tanah diambil pada
setiap lapisan untuk mempelajari perkembangan profil menetapkan jenis tanah
maka disebut “contoh tanah satelit”. Contoh tanah yang diambil dari beberapa
tempat dan digabung untuk menilai tingkat kesuburan tanah disebut “contoh tanah
komposit”. Pengambilan contoh tanah secara komposit dapat menghemat biaya
analisis bila dibandingkan dengan pengambilan secara individu ( Peterson dan
calvin, 1986 ). Adalagi contoh tanah yang diambil dengan pengambilan sampel
(care) dan disebut dengan contoh tanah utuh, yang biasanya digunakan untuk
menetapkan sifat tanah disebut contoh tanah utuh karena strukturnya asli
seperti apa adanya di lapangan sedangkan contoh tanah yang sebagian atau
seluruh strukturnya telah rusak disebut contoh tanah terganggu.
Pengamatan profil
meliputi pengamatan dalam profil itu sendiri, dan pengamatan faktor sekeliling
yang mempengaruhi proses pembentukan tanah. Yang termasuk faktor sekeliling
antara lain yaitu vegetasi, kedalaman air tanah, topografi, usaha tani, ada
tidaknya faktor penghambat seperti bahaya banjir, erosi, salinitas, keadaan
berbatu dan sebagainya.
B. TUJUAN
Mengetahui atau mengenal suatu
jenis tanah, dan untuk mengamati horizon-horizon tanah.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Profil Tanah
merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah dibuat dengan cara menggali
lubang dengan ukuran (panjang dan lebar) tertentu dan kedalaman yang tertentu
pula sesuai dengan keadaan keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tekanan pori
diukur relative terhadap tekanan atmosfer dianamakan muka air tanah. Tanah yang
diasumsikan jenuh walaupun sebenarnya tidak demikian karena ada rongga-rongga
udara (Pasaribu, 2007).
Adapun
faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah yaitu :
1.
Bahan Induk
Keadaan alami bahan induk akan mempunyai pengaruh
terputus pada sifat-sifat tanah muda, mereka dapat memakai satu pengaruh pada
tanah-tanah tua yang ada. Sifat bahan induk yang memakai satu pengaruh yang
mendalam pada perkembangan tanah, termasuk tekstur, komposisi mineral, dan
tingkat stratifikasi. Pembentukan tanah dapat dimulai segera setelah penimbunan
abu vulkanik tetapi harus menunggu penghancuran batuan keras secara fisik
dimana granit dibuka. Selama stadia awal pembentukan tanah, penghancuran dapat
membatasi laju dan kedalaman perkembangan tanah, dimana laju dan penghancuran
batuan melebihi laju perpindahan bahan oleh erosi tanah-tanah produktif dengan
solum tebal dapat berkembang dari batuan dasar (Foth. H.D, 1988).
2.
Iklim
Pengaruh iklim yang penting yang mempengaruhi
pembentukan tanah adalah presipitasi dan temperature. Iklim juga mempengaruhi
pembentukan tanah secara tidak langsung yang menentukan vegetasi alami.
Tidaklah terlalu mengejutkan bahwa terdapat beberapa penyebaran iklim, vegetasi
dan tanah yang paralel di permukaan bumi. Setiap kenaikan 10°C akan menaikkan
laju reaksi kimia dua sampai tiga kali. Meningkatnya pelapukan dan kandungan
liat terjadi dengan meningkatnya rata-rata temperatur tanah. Rupanya hanya
tanah-tanah yang sangat muda yang mempunyai pengaruh iklim yang konstan selama
genesa tanah (Foth. H.D, 1988).
3.
Organisme
Tanaman
mengabsorbsi unsur hara dari tanah dan mengangkut nutrien ketajuk tanaman, bila
tajuk mati dan jatuh ke permukaan tanah perombakan bahan organik akan
melepaskan unsur hara untuk kesuburan dirinya sendiri (Foth,1988).
Profil tanah rumput mengandung lebih banyak bahan organik terdistribusi lebih uniform di dalam tanah daripada tanah hutan. Tanah dengan vegetasi hutan mempunyai kira-kira separuh dari kandungan bahan organik dan terdistribusi tidak merata dengan tingkat perkembangan profil tanah lebih sempurna. Horizon-horizon pada solum lebih asam dan % jenuh basa yang rendah dan lebih banyak liat yang dipindahkan dari horizon A ke horizon B (Buckman&Brady,1982).
Profil tanah rumput mengandung lebih banyak bahan organik terdistribusi lebih uniform di dalam tanah daripada tanah hutan. Tanah dengan vegetasi hutan mempunyai kira-kira separuh dari kandungan bahan organik dan terdistribusi tidak merata dengan tingkat perkembangan profil tanah lebih sempurna. Horizon-horizon pada solum lebih asam dan % jenuh basa yang rendah dan lebih banyak liat yang dipindahkan dari horizon A ke horizon B (Buckman&Brady,1982).
4.
Topografi
Topografi mengubah perkembangan profil tanah dalam tiga
cara, yaitu :
a.
Dengan mempengaruhi jumlah presipitasi yang diabsorbsi
dan ditahan dalam tanah,oleh karenanya mempengaruhi kelembaban
b.
dengan mempengaruhi kecepatan perpindahan tanah oleh
erosi
c.
dengan mengarahkan gerakan bahan-bahan dalam suspensi
atau larutan dari daerah yang satu ke daerah yang lain (Foth. H.D, 1988)
Hasil
pelapukan batuan-batuan yang bercampur dengan sisa batuan dari organisme yang
hidup diatasnya. Selain itu, terdapat pula udara dan air didalam tanah. Air
dalam tanah berasal dari air hujan yang ditahan oleh tanah sehingga tidak
meresap ketempat lain, disamping pencampuran bahan organik didalam proses
pembentukan tanah, terbentuk pula lapisan-lapisan tanah. (Hardjowigeno, 1985).
Pembentukan lapisan atau perkembangan horizon dapat membangun tubuh alam yang
disebut tanah. Tiap tanah dicirikan oleh susunan tertentu horizon. Secara umum
dapat disebutkan bahwa setiap profil tanah terdiri atas dua atau lebih horizon
utama. Tiap horizon dapat dibedakan berdasarkan warna, tekstur, struktur dan
sifat morfologis lainnya. (Pairunan, 1985).
Menurut
Hanafiah (2007), berdasarkan pembentukannya, bebatuan ini dikelompokkan
menjadi 3 golongan yaitu:
1. Batuan
beku (igneous rock) yang merupakan bebatuan yang terbentuk dari proses
solidifikasi (pembekuan) magma cair. Apabila proses pembentukannya terjadi jauh
dibawah tanah, maka bebatuan yang terbentuk disebut plutonik (batuan dalam),
disebut intrusi (batuan gang) jika pembekuannya terjadi didalam liang-liang
menuju permukaan tanah, dan disebut ekstrusi (batuan vulkanik atau lelehan)
jika pembekuannya terjadi dipermukaan tanah.
2. Batuan
sedimen (sedimentary rock) merupakan bebatuan yang terbentuk dari proses
konsolidassi (pemadatan) endapan-endapan partikel yang terbawa oleh angina atau
air dibawah permukaan bumi.
3. Batuan
peralihan (metamorf) yang merupakan batuan beku atau batuan sedimen yang telah
mengalami transformasi (perubahan rupa) akibat adanya pengaruh perubahan suhu,
tekanan, cairan atau gas aktif.
BAB 3
METODE PRAKTIKUM
A.
ALAT DAN BAHAN
Alat
yang digunakan pada praktikum Acara VI. Pengenalan Profil Tanah ini antara lain
Bor tanah, abney level (clinometer)
untuk mengukur kemiringan tanah, kompas, altimeter, pH saku, botol semprot,
kertas label, meteran, buku Munsell Soil Color Chart, Kantong Plastik, Spidol,
buku pedoman pengamatan tanah di lapang, dan daftar isian profil.
Bahan
yang digunakan pada praktikum ini adalah larutan H2O2 3%,
larutan HCL 10%, larutan αα-dipridil dalam 1N NH4Oac neteral,
akuades dan lahan pengamatan.
B.
PROSEDUR KERJA
1. Tempat pembuatan profil
dipilih, sebelumnya dilakukan pengeboran (boring)
ditempat-tempat sekitar profil yang akan dibuat sedalam 1 meter pada 2 atau 3
tempat berjarak 1meter, yang berguna supaya tercapai keseragaman.
2. Lubang yang telah digali sedemikian rupa sehingga
terbentuk profil tanah dengan ukuran panjang 2m, lebar 1,5m. Didepan bidang
pengamatan profil dibuat tangga (trap)
ke bawah untuk memudahkan pengamata
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENGAMATAN
|
Nomor
Lapisan
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|||||||||||||||
|
Dalam
lapisan
|
0-24
cm
|
24-42
cm
|
42-64
cm
|
64-88 cm
|
82-112
cm
|
|||||||||||||||
|
Simbol
Lapisan
|
O
|
A1
|
A2
|
B1
|
B2
|
|||||||||||||||
|
Batas
Lapisan
|
a
|
b
|
c
|
d
|
a
|
b
|
c
|
d
|
a
|
c
|
g
|
d
|
a
|
b
|
c
|
d
|
a
|
b
|
c
|
d
|
|
Batas
Topografi
|
s
|
w
|
i
|
b
|
s
|
w
|
i
|
b
|
s
|
w
|
i
|
b
|
s
|
w
|
i
|
b
|
s
|
w
|
i
|
b
|
|
Warna
Tanah (matriks)
|
10 YR
3/4
|
5 YR
3/4
|
10 YR
2/2
|
7,5
YR/SR
|
7,5 YR
3/4
|
|||||||||||||||
|
Tekstur
Tanah
|
S
|
Gr
|
l
|
s
|
Gr
|
l
|
S
|
Gr
|
l
|
s
|
Gr
|
l
|
s
|
Gr
|
L
|
|||||
|
Cl
|
Cl
|
Cl
|
Cl
|
Cl
|
||||||||||||||||
|
Si
|
Si
|
Si
|
Si
|
Si
|
||||||||||||||||
|
Struktur
tanah
|
0
1
2
3
|
Vf
F
M
C
Vc
|
Pl
P
Cp
Ab
B
Sb
G
Cr
L
m
|
0
1
2
3
|
VT
F
M
C
Vc
|
Pl
P
Cp
Ab
B
Sb
G
Cr
L
m
|
0
1
2
3
|
Vf
F
M
C
Vc
|
Pl
P
Cp
Ab
B
Sb
G
Cr
L
m
|
0
1
2
3
|
Vf
F
M
C
Vc
|
Pl
P
Cp
Ab
B
Sb
G
Cr
L
m
|
0
1
2
3
|
Vt
F
M
C
Vc
|
Pl
P
Cp
Ab
B
sb
G
Cr
L
M
|
|||||
|
Konsistensi
|
B
|
L
|
K
|
B
|
L
|
K
|
B
|
L
|
K
|
B
|
L
|
K
|
B
|
L
|
K
|
|||||
|
So
Ss
Vs
P0
Ps
Vp
P
|
L
Vf
f
t
vt
et
|
L
S
Sh
H
Vh
eh
|
So
S
Vs
P0
Ps
Vp
p
|
L
Vf
f
t
vt
et
|
L
S
sh
H
Vh
eh
|
So
S
Vs
P0
Ps
Vp
P
|
L
Vf
f
t
vt
et
|
L
S
Sh
H
Vh
eh
|
So
Ss
Vs
P0
Ps
Vp
p
|
L
Vf
f
t
vt
et
|
L
S
Sh
H
Vh
eh
|
So
Ss
Vs
P0
Ps
Vp
p
|
L
Vf
f
t
vt
et
|
L
S
Sh
H
Vh
eh
|
||||||
|
pH
tanah (lapang)
|
5,5
|
6
|
5,5
|
5
|
5,5
|
|||||||||||||||
|
Perakaran
|
Halus
Kasar
|
Banyak
Sedang
|
Sedang
Sedikit
|
Sedikit
Sedikit
|
Halus Sedikit
Sampai:0-20
cm
|
|||||||||||||||
Reaksi terhadap HCL Tidak
ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak
ada
Reaksi terhadap H2O2 Banyak Banyak Banyak Banyak Sedikit
B.
PEMBAHASAN
Tanah adalah
lapisan nisbi tipis pada permukaan kulit bumi. Sedangkan profil tanah
didefinisikan sebagai irisan vertikal tanah dari lapisan atas hingga ke bahan
induk tanah. Profil dari tanah mineral yang telah berkembang
lanjut biasanya memiliki horizon-horizon sebagai berikut ; O-A-E-B-C-R (Hakim,
, dkk.1982).
Profil tanah
merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat
lubang dengan ukuran panjang dan lebar serta kedalaman tertentu sesuai dengan
keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tanah merupakan tubuh alam yang
terbentuk dan berkembang akibat terkena gaya-gaya alam (natural forces)
terhadap proses pembentukan mineral. Pembentukan dan pelapukan bahan-bahan
organik pertukaran ion-ion, pergerakan dan pencucian bahan-bahan koloid
(Wahyuaskari, 2011).
1. Warna
Tanah
Suatu profil tanah terdiri dari horizon-horizon dengan warna beragam antara
horizon dan dalam satu horizon. Pada pemerian profil tanah, warna setiap
horizon itu haruslah diperi secara lengkap. Pemberian warna tanah juga perlu
memperhatikan hubungan antara pola warna dengan struktu tanah kesarangan tanah.
Agregat tanah yang disidik perlu di hancurkan untuk memastikan apakah warna
tanah tampak itu seragam diseluruh agregat. Buku Munsell Soil Color Chart
merupakan buku pedoman pemberian warna tanah yang dipublikasikan oleh Badan
Pertanian Amerika Serikat (USDA) (Poerwidodo, 1991).
2. Tekstur
Tanah
Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena
terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang
terkandung pada tanah (Badan Pertanahan Nasional). Dari ketiga jenis fraksi
tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 – 0,05
mm, debu dengan ukuran 0,05 – 0,002 mm dan liat dengan ukuran <0,002 mm
(penggolongan berdasarkan USDA). Keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh
terhadap keadaan sifat-sifat tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas
tanah, porositas dan lain-lain (
3. Struktur
Tanah
Struktur tanah menunjukkan kombinasi atau susunan partikel-partikel tanah
primer (pasir, debu, dan liat) sampai pada partikel-partikel sekunder atau ped
disebut juga agregat. Struktur suatu horizon yang berbeda satu profil tanah
merupakan satu ciri penting tanah, seperti warna tekstur atau komposisi kimia.
Struktur mengubah pengaruh tekstur dengan memperhatikan hubungan kelembaban
udara. Struktur berkembang tidak dari satu butir tunggal maupun dari keadaan
pejal (Foth, 1998).
4. Konsistensi
Tanah
Konsistensi adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan
tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan
bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik
antara partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah. Konsistensi tanah
menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya
adhesi butir-butir tanah dengan benda lain (Hardjowigeno, 1992).
5. pH
Tanah
pH tanah menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen di dalam tanah. Makin
tinggi kadar ion di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Bila kandungan H+
sama dengan OH maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH =
7 (Hardjowigeno, 2010).
Larutan HCl digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan kapur pada tanah,
jika tanah berbuih berarti terdapat kandungan kapur di dalam tanah. Sementara
Larutan H2O2 digunakan untuk mengetahui ada tidaknya
kandungan bahan organik pada tanah, jika tanah berbuih berarti terdapat
kandungan bahan organik di dalam tanah.
Horizon
tanah adalah lapisan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan bumi dan
mempunyai ciri-ciri tertentu (khas). Profil dari tanah yang berkembang lanjut
biasanya memiliki horison-horison tanah. Pembentukan lapisan atau perkembangan
horizon dapat membangun tubuh alam yang di sebut tanah.
Horison tanah
(lapisan) : Tanah terdiri dari lapisan berbeda horisontal, pada lapisan yang
disebut horizons. Mereka mulai dari kaya, organik lapisan atas (humus dan
tanah) ke lapisan yang rocky (lapisan tanah sebelah bawah, dan regolith
bedrock).
Empat
lapisan teratas yang masih dipengaruhi cuaca disebut Solum Tanah, horizon O – A
disebut lapisan tanah atas dan horizon E – B disebut lapisan tanah bawah.
1. Horizon O adalah horizon yang terdiri dari
bahan serasa atau sisa-sisa tanaman dan bahan organik tanah hasil dekomposisi
serasa.
2. Horizon A adalah horizon mineral berbahan
organik tanah tinggi sehingga berwarna agak gelap.
3. Horizon E adalah horizon mineral tercuci
sehingga kadar , liat silikat, Fe. Al rendah tetapi kadar pasir dan debu kuarsa
serta mineral resistsen lainnya tinggi dan berwarna terang.
4. Horizon B adalah horizon illuviasi yaitu
horizon akumulasi bahan eluvial dari horizon di atasnya.
5. Horizon C adalah lapisan yang bahan penyusunnya
masih sama dengan bahan induk atau belum terjadi perubahan secara
kimiawi.
6. Horizon R adalah bahan batuan induk tanah (Hanafiah,
2007).
Dalam praktikum
kali ini tentang pengenalan profil tanah hal yang diamati yaitu kedalaman
lapisan tanah, batas lapisan tanah, batas topografi, warna tanah (matriks),
tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, pH tanah (lapang), perakaran,
reaksi terhadap HCL, reaksi terhadap H2O2. Dengan cara
memilih tempat pembuatan profil yang sebelumnya dilakukan dengan menggali tanah
sedalam 1 meter pada 2 atau 3 tempat berjarak 1 meter, yang berguna untuk
tercapai keseragaman. Selanjutnya menggali sedemikian rupa sehingga terbentuk
profil tanah dengan ukuran panjang 2 m, lebar 1,5 m dan kedalaman 1,5 m.
Selanjutnya mulailah untuk mengamati kedalaman lapisan tanah, batas lapisan
tanah, batas topografi, warna tanah (matriks), tekstur tanah, struktur tanah,
konsistensi, pH tanah (lapang) dan perakaran.
Yang pertama
kedalaman lapisan. Lapisan l memiliki
kedalaman 0-24 cm, lapisan II 24-42 cm, lapisan III 42-64 cm, lapisan IV 64-88
cm dan lapisan V 88-112. Perbedaan lapisan ini merupakan salah satu sifat fisik
tanah yang terdiri dari lapisan-lapisan atau horizon. Batas suatu horizon
dengan horizon lainnya dalam suatu profil tanah dapat terlihat jelas atau baur.
Hal ini sesuai dengan pendapat Pairunan (1983) yang menyatakan bahwa dalam
pengamatan tanah dilapangan ketajaman peralihan horizon ini dibedakan kedalam
beberapa tingkatan yaitu nyata lebar perlaihan kurang dari 2,5 cm, jelas lebar
peralihan 2,5-6,5 cm, berangsur lebar peralihan 6,5-12,5 cm, dan baur l ebar
peralihan lebih dari 12,5 cm.
Topografi batas lapisan I hingga
lapisan V memiliki topografi yang berombak. Adanya batasan dan topografi
lapisan-lapisan ini sesuai dengan pendapat Kartasaputra dan Mulyani (1987) yang
menyatakan bahwa lapisan-lapisan yang terbentuk pada profil dapat dikatakan
tidak selamanya tegas dan nyata tetapi kerap kali batasannya agak kabur atau
berombak.
Tekstur pada lapisan I lempung
berliat, Lapisan II ialah lempung liat berdebu, lapisan III ialah lempung
berdebu, lapisan IV lempung berliat dan lapisan V lempung berliat. Penentuan
tekstur tanah ini didapatkan dari hasil uji feeling di lapangan dengan memijit
tanah basah diantara jari-jari. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno
(1987) yang menyatakan bahwa di lapangan, tekstur tanah dapat ditentukan dengan
memijit tanah diantara jari-jari, sambil dirasakan halus dan kasarnya yang
dirasakan adanya butir-butir pasir, debu dan liat.
Untuk yang ke enem yaitu mengenai struktur tanah dalam praktek di lapangan di peroleh struktur tanah tiap lapisan agak
berbeda. Pada lapisan I memiliki struktur tanah sedang (M) dan lemah (1),
lapisan II berstruktur halus(F) dan lemah (1), lapisan III berstruktur sedang
(M) dan cukupan (2),lapisan IV berstruktur sangat lembut (VF) dan lemah (1) dan
lapisan V memiliki struktur sangat halus (VF) dan cukupan (2). Menurut
Hardjowigeno (1987) gumpalan-gumpalan kecil ini mempunyai bentuk, ukuran dan
kemantapan yng berbeda-beda
Yang ketujuh tentang Konsisitensi tanah pada
setiap lapisan berbeda. Pada lapisan I konsisitensi tidak lekat (so); sangat
gembur (vf) , dan lunak (s), lapisan II konsistensi tanah lekat (s); sangat
teguh (vt), dan lunak (s), konsistensi
tanah pada lapisan III lekat (s); sangat teguh (vt); dan agak keras (sh),
konsistensi tanah pada lapisan IV agak lekat (ss) dan sangat teguh (vt), dan
konsistensi tanah pada lapisan V tak lekat (so); sangat teguh (vt); dan agak
keras (sh). Menurut Hardjowigeno (1987) tanah basah adalah tanah dengan
kandungan air mendekati kapasitas lapang, tanah lembab adalah tanah kering yang
tanah dengan kandungan air mendekati kapasitas.
Selanjutnya yang kedelapan pH tanah (lapang)
Reaksi tanah (pH) perlu diketahui karena tiap tanaman memerlukan lingkungan pH
tertentu. Ada tanaman yang toleran terhadap goncangan pH yang panjang, tetapi
ada pula tanaman yang tidak toleran terhadap goncangan pH. Di samping
berpengaruh langsung terhadap tanaman, pH juga mempengaruhi faktor lain,
misalnya ketersediaan unsur, kelarutan Al dan Fe tinggi. Akibatnya, pada pH
sangat rendah pertumbuhan tanaman tidak normal karena suasana yang tidak
sesuai, kelarutan beberapa unsur menurun, ditambah lagi dengan adanya keracunan
Al dan Fe (Rosmarkam, 2002)
Potensial of Hidrogen
(pH) dibagi dalam 3 katagori:
1.
pH<5 maka dikatagorikan Asam.
Jika tanahnya
asam maka unsur hara akan terlepas keluar dari tanah, dan tanaman akan sulit
tumbuh.
2.
pH>8 maka dikatagorikan Basa.
Jika tanahnya basa
maka tanah memang banyak mengandung unsur hara akan tetapi masih terikat dan
tidak mudah tersedia untuk digunakan oleh tanaman.
3.
5<pH<8 maka dikatagorikan Netral , inilah keadaan tanah dalam
kondisi yang baik sekitar: 6,5-7.
Sebagai contoh: pH
tanah diumpamakan sebagai lambung manusia, bila terlalu asam tentu lambung
tidak akan bekerja dengan baik , begitu pula dengan tanah , maka yang terbaik
adalah pH netral sekitar 6,5 – 7.
pH yang didapat dari
lapisan I adalah 5,5, lapisan II 6 , lapisan III 5,5 lapisan IV 5 dan lapisan V 5,5. Maka dari
hasil yang didapat pH tanah yang kami uji dikategorikan ke dalam tanah netral,
karena pH tanah berkisar 5-6.
Dan yang terakhir terakhir tentang perakaran Tanah adalah tempat tumbuh
bagi tanaman. Di lapangan pertanian tanah adalah alat produksi untuk
menghasilkan hasil pertanian. Sebagai alat produksi pertanian, maka tanah
berfungsi sebagai tempat tegak tanaman, sebagai tempat persediaan air dan udara
sehingga akar dapat bernafas dan menghisap makanan dari dalam tanah.
BAB 5
KESIMPULAN
DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat
ditarik kesimpulan :
1. Profil tanah merupakan suatu irisan
melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat lubang dengan ukuran
panjang dan lebar serta kedalaman tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan
keperluan penelitian
2. Tiap – tiap lapisan pada profil tanah berbeda,
mulai dari warna ; tekstur ; struktur ; konsistensi ; pH tanah dll.
3. Selain itu, ada juga larutan HCL yang
digunakan untuk mengetahui kandungan kapur dari dalam tanah, sama halnya dengan
H2O2 ditandai dengan keluarnya buih dari dalam tanah.
B. SARAN
Sebaiknya ketika
praktikum harus lebih teliti lagi dalam pengukuran maupun pengamatanya. Dan
haris berhati- hati untuk pengukuran ph tanah dengan mencampurkan sampel tanah
dengan larutan H2O2.
DAFTAR PUSTAKA
Buckman,Harry O.1982.Ilmu Tanah.Bhratara Karya Aksara: Jakarta
Foth, Henry D. 1998. Dasar-Dasar
Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Hakim, , dkk.1982. Dasar-dasar
Ilmu Tanah. Lampung: Universitas
Hanafiah, Kemas A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Pt. Raja
Grafindo Persada : Jakarta.
Hardjowigeno,
S. 1985. Ilmu Tanah. Akademik Pressindo, Jakarta.
Hardjowigeno, S . 1987. Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika
Pressindo
Hardjowigeno, S . 2010. Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika
Pressindo
Kartasapoetra. 1987. Ilmu Tanah
Umum. Bagian Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran. Bandung.
Pairunan. A. K. dkk. 1985. Dasar-Dasar
Ilmu Tanah. Ujung Pandang: BKPT INTIM
Pasaribu.2007.http://www.scribd.com/doc/13977716/Alfisol-Dan-Oxisol.Diakses
tanggal
3 April 2014.
Poerwowidodo. 1991. Genesa
Tanah. Rajawali. Jakarta.
Wahyuaskari. 2011. PROFIL TANAH.
http://wahyuaskari.wordpress.com/literatur/profil-tanah/. Diakses tanggal 3 April 2014