Tuesday, 15 April 2014

PENGAMATAN TANAH DENGAN INDRA

BAB 1
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Tanah adalah suatu benda alami yang terdapat di permukaan kulit bumi, yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan sisa tumbuhan dan hewan, danmempunyai tiga dimensi ruang, yaitu panjang, lebar dan kedalaman.Tanah adalah kumpulan tubuh alam yang menduduki sebagian besar daratan planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman dan sebagai tempat mahluk hidup lainnya dalam melangsungkan kehidupannya.
Tanah bersifat dinamis, dimana tanah mengalami perkembangan setiap waktunya. Karakteristik tanah di setiap daerah tentunya berbeda dengan daerah lainnya. Tanah dapat dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang dimilikinya. Ilmu yang mempelajari tentang proses-proses pembentukan tanah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya disebut genesis tanah.
            Tekstur tanah adalah pembagian ukuran butir tanah. Butir-butir yang paling kecil adalah butir liat, diikuti oleh butir debu, pasir, dan kerikil. Selain itu, ada juga tanah yang terdiri dari batu-batu. Tekstur tanah dikatakan baik apabila komposisi antara pasir, debu dan liatnya hampir seimbang. Tanah seperti ini disebut tanah lempung. Semakin halus butir-butir tanah (semakin banyak butir liatnya), maka semakin kuat tanah tersebut memegang air dan unsur hara. Tanah yang kandungan liatnya terlalu tinggi akan sulit diolah, apalagi bila tanah tersebut basah maka akan menjadi lengket. Tanah jenis ini akan sulit melewatkan air sehingga bila tanahnya datar akan cenderung tergenang dan pada tanah berlereng erosinya akan tinggi. Tanah dengan butir-butir yang terlalu kasar (pasir) tidak dapat menahan air dan unsur hara. Dengan demikian tanaman yang tumbuh pada tanah jenis ini mudah mengalami kekeringan dan kekurangan hara.
            Tanah terdapat di mana-mana, tetapi kepentingan orang terhadap tanah berbeda-beda. Seorang ahli pertambangan menganggap tanah sebagai sesuatu yang tidak berguna karena menutupi barang-garang tambang yang dicarinya. Semua bahan yang digali kecuali batu-batunya dinamakan tanah. Demikian pula  seorang ahli jalan menganggap tanah adalah bagian permukaan bumi yang lembek sehingga perlu dipasang batu-batu di permukaannya agar menjadi kuat. Dalam kehidupan sehari-hari tanah diartikan sebagai wilayah darat dimana diatasnya dapat ldigunakan untuk berbagai usaha misalnya pertanian, peternakan, mendirikan bangunan, dan lain-lain.

B.     TUJUAN
1. Menetapkan warna dasar beberapa jenis tanah dengan menggunakan buku Munsell Soil Color Chart.
2. Menentukan tekstur beberapa jenis tanah dengan cara merasakan tanah menggunakan ibu jaru dan jari telunjuk.
3. Menentukan struktur beberapa jenis tanah berdasarkan bentuk tanah.
4. Menetapkan konsistensi berbagai jenis tanah dalam keadaan basah, lembab dan kering.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan   relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Berdasar definisi tanah, dikenal lima macam faktor pembentuk tanah, yaitu :
        1.  Iklim
        2.  Kehidupan
        3.  Bahan induk
        4.  Topografi
        5. Waktu.
Dari  kelima  faktor  tersebut yang bebas  pengaruhnya adalah iklim. Oleh karena itu pembentukan tanah kering dinamakan dengan istilah asing weathering. Secara garis  besar  proses  pembentukan  tanah  dibagi  dalam  dua  tahap,  yaitu proses  pelapukan dan proses perkembangan tanah  (Hardjowigeno, 1992).
Warna merupakan salah satu sifat fisik tanah yang lebih banyak digunakan untuk pendeskripsian karakter tanah, karena tidak mempunyai efek langsung terhadap tetanaman tetapi secara tidak langsung berpengaruh lewat dampaknya terhadap temperatur dan kelembapan tanah. Warna tanah dapat meliputi putih, merah, coklat, kelabu, kuning dan hitam, kadangkala dapat pula kebiruan atau kehijauan. Kebanyakan tanah mempunyai warna yang tidak murni, tetapi campuran kelabu, coklat dan bercak, kerapkali 2-3 warna terjadi dalam bentuk spot-spot, disebut karatan (Tan, 1995).
Struktur tanah merupakan susunan  ikatan partikel  tanah  satu  sama  lain. Ikatan  tanah  berbentuk  sebagai  agregat  tanah.  Apabila  syarat  agregat  tanah terpenuhi maka dengan sendirinya tanpa sebab dari luar  disebut  ped,  sedangkan ikatan  yang  merupakan  gumpalan  tanah  yang  sudah   terbentuk  akibat penggarapan  tanah  disebut  clod.  Untuk  mendapatkan  struktur tanah yang baik dan valid  harus  dengan  melakukan  kegiatan  dilapangan,  sedang laboratorium elatif  sukar  terutama  dalam  mempertahankan  keasliannya  dari bentuk agregatnya (Hardjowigeno, 1992).
Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah (separat) yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) relatif antara fraksi pasir (sand) (berdiameter 2,00-0,20 mm atau 2000-200 µm, debu (slit) (berdiameter 0,20- 0,002 mm atau 200- 2µm) dan liat (clay) (<2 µm). Berdasarkan kelas teksturnya maka tanah digolongkan menjadi :
a) Tanah bertekstur kasar atau tanah berpasir berarti tanah yang mengandung minimal 70% pasir atau bertekstur pasir atau pasir berlempung.
b) Tanah bertekstur halus atau tanah berliat mengandung minimal 37,5 % liat atau bertekstur liat, liat berdebu atau liat berpasir (3 macam).
c) Tanah bertekstur sedang atau tanah berlempung (Hanafiah, 2009).
Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Konsistensi adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antara partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah. Konsistensi tanah adalah suatu sifat tanah yang menunjukkan derajat kohesi dan adhesi diantara partikel – parkikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk yang disebabkan oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengarui bentuk tanah (Kohnke, , 1968)
Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu: basah, lembab, dan kering. Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field cappacity). Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara (Madjid, 2009). 

BAB 3
METODE PRAKTIKUM

A.   ALAT DAN BAHAN
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi buku Munsell Soil Color Chart, cawan porselin, botol semprot, dan alat tulis. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi air, contoh tanah kering yang terdiri dari andisol, vertisol, ultisol, entisol, dan inceptisol.

B.    PROSEDUR KERJA
a.     Warna Tanah
Diambil sedikit tanah gumpal yag lembab secukupnya (permukaannya tidak mengkilap). diletakkan  tanah tadi di bawah lubang kertas buku Munsell Soil Color Chart, kemudian dicatat notasi warna ( Hue, Value, Chroma) dan nama warna. Pengamatan warna tanah tidak boleh terkena cahaya matahari langsung.
b.     Tekstur Tanah
Diambil sebongkah tanah kira- kira sebesar kelereng. Setelah itu dibasahi dengan air hingga tanah dapat ditekan. Tanah  dipijit kemudian dibuat benang dan sambil dirasakan kasar halusnya tanah. Jika:
a)   Bentuknya benang mudah dan membentuk pita panjang, maka besar kemungkinan teksturnya liat.
b)  Mudah patah, kemungkinan tekstur tanahnya lempung berliat dan
c)  Tidak terbentu benang, kemungkinan lempung atau pasir. Jika terasa lembut dan licin maka lempung berdebu, terasa kasar, lempung berpasir.
c.      Struktur Tanah :
Diambil sebongkah tanah diambil dari horison tanah, kemudian dipecah dengan cara menekan dengan jari atau dengan dijatuhkan dari ketinggian tertentu, sehingga bongkah tanah akan pecah secara alami. Pecahan tersebut menjadi agregat mikro (ped) yang merupakan kelas struktur tanah.
d.     Konsistensi
Diamati contoh tanah dalam berbagai kandungan air  dengan dipijit menggunakan ibu jari dan telunjuk. Dilakukan pengamatan dimulai pada kondisi kering, lembab dan basah dengan cara menambah air pada contoh tanahnya.

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. Warna dan Tekstur
No.
Jenis Tanah
Warna Tanah
Tekstur Tanah
Notasi warna
Nama Warna
1.
Andisol
10 YR, 2/2
Very dark Brown
Lempung Berpasir
2.
Inceptisol
5 YR, 3/3
Dark Redish Brown
Lempung berliat
3.
Entisol
5 YR 3/2
Dark Redish Brown
Lempung berliat
4.
Vertisol
5 YR, 3/2
Dark Olive Gray
Liat
5.
Ultisol
5 YR, 4/6
Yellowish Brown
Lempung Berdebu

2. Struktur
No.
Jenis Tanah
                   Struktur Tanah
Tipe
Kelas
Derajat
1.
Andisol
Remah
Halus
Lemah
2.
Inceptisol
Kersal
Sedang
Lemah
3.
Entisol
Remah
Kasar
Lemah
4.
Vertisol
Gumpal
Sangat halus
Kuat
5.
Ultisol
Remah
Halus
Kuat

3. Konsistensi
No.
Jenis Tanah
Konsisten basah
Konsisten lembab
Konsisten kering

Kelekatan
Keliatan

1.
Andisol
So
Po
F
SH

2.
Inceptisol
SS
po
VF
S

3.
Entisol
So
p
VF
EH

4.
Vertisol
VS
Vp
ET
VH

5.
Ultisol
S
ps
T
VH


B. PEMBAHASAN
a. Warna Tanah
Warna tanah merupakan gabungan berbagai warna komponen penyusun tanah. Warna tanah berhubungan langsung secara proporsional dari total campuran warna yang dipantulkan permukaan tanah. Warna tanah sangat ditentukan oleh luas permukaan spesifik yang dikali dengan proporsi volumetrik masing-masing terhadap tanah. Makin luas permukaan spesifik menyebabkan makin dominan menentukan warna tanah, sehingga warna butir koloid tanah (koloid anorganik dan koloid organik) yang memiliki luas permukaan spesifik yang sangat luas, sehingga sangat mempengaruhi warna tanah (Poerwowidodo., 1991)
Warna tanah diatas ditetapkan menggunakan Munsell Soil Color Chart, yaitu dimana dalam penetapan warna harus di catat HUE, VALUE, dan CHROMA.
a.        Hue : warna dominan sesuai dengan panjang gelombangnya.
·         Hue dibedakan menjadi 10 warna, yaitu:
Y (yellow = kuning),  YR (yellow-red), R (red = merah),  RP (red-purple), P (purple = ungu), PB (purple-brown), B (brown = coklat), BG (grown-gray), G (gray = kelabu), dan GY (gray-yellow).
·         Selanjutnya setiap warna ini dibagi menjadi kisaran hue sebagai berikut:
hue = 0 – 2,5; hue = 2,5 – 5,0; hue = 5,0 – 7,5;  hue = 7,5 – 10. Nilai hue ini dalam buku hanya ditulis: 2,5 ; 5,0 ; 7,5 ; dan 10.
Berdasarkan buku Munsell Saoil Color Chart nilai Hue dibedakan menjadi: 5 R; 7,5 R; 10 R; 2,5 YR; 5 YR;  7,5 YR; 10 YR; 2,5 Y; dan 5 Y, yaitu mujlai dari spektrum dominan paling merah (5 R) sampai spektrum dominan paling kuning (5 Y), selain itu juga sering ditambah untuk warna-warna tanah tereduksi (gley) yaitu: 5 G;  5 GY;  5 BG; dan N(netral).
b.        Value : merupakan kartu warna ke arah vertikal yang menunjukkan warna tua-muda atau hitam-putih, ditulis dibelakang nilai hue.
Value dibedakan dari 0 sampai 8, yaitu makin tinggi value menunjukkan warna makin terang (makin banyak sinar yang dipantulkan). Nilai Value pada lembar buku Munsell Soil Color Chart terbentang secara vertikal dari bawah ke atas dengan urutan nilai 2; 3; 4; 5; 6; 7; dan 8. Angka 2 paling gelap dan angka 8 paling terang.
c.        Chroma : merupakan kartu warna yang disusun horizontal yang menunjukkan intensitas cahaya. Ditulis dibelakang value yang dipisahkan dengan garis miring.
Chroma juga dibagi dari 0 sampai 8, dimana makin tinggi chroma menunjukkan kemurnian spektrum atau kekuatan warna spektrum makin meningkat. Nilai chroma pada lembar buku Munsell Soil Color Chart dengan rentang horisontal dari kiri ke kanan dengan urutan nilai chroma: 1; 2; 3; 4; 6; 8. Angka 1 warna tidak murni dan angka 8 warna spektrum paling murni
Warna tanah merupakan sifat morfologi yang bersifat nyata dan mudah di kenali.  Warna tanah dapat di gunakan sebagai petunjuk sifat-sifat tanah seperti kandungan bahan organik, kondisi drainase, aerase serta  menggunakan warna tanah dalam mengklasifikasikan tanah dan mencirikan perbedaan horizon-horizon dalam tanah (Hakim,dkk.,1996).
Warna tanah merupakan ciri tanah yang paling jelas dan mudah ditentukan dilapang. Warna tanah mencerminkan beberapa sifat tanah. Kandungan bahan organik yang tinggi pada tanah akan menimbulkan warna lebih gelap. Tanah dengan drainase yang jelek atau sering jenuh air berwarna kelabu. Tanah yang mengalami dehidratasi senyawa besi akan berwarna merah.
Pada pengamatan tanah dengan indra, warna tanah mencerminkan beberapa sifat tanah, diantaranya yaitu kandungan bahan organic, drainase. Warna tanah sangat dipengaruhi oleh kadar lengas didalamnya. Tanah yang kering warnanya lebih muda dibandingkan dengan tanh yang basah, ini karena bahan koloid yang kehilangan air. Pengamatan warna tanah dilakukan dengan cara mengambil segumpal sampel tanah, kemudian diletakkan dibawah lubang buku Munsell Soil Color Chart, dicocokkan kemudian dicatat notasi warnanya.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, didapat hasil :
1.      Sampel tanah Andisol                = 10 YR, 2/2 (Very Drak Brown)
2.      Sampe tanah Inseptisol              = 5 YR, 3/3 (Dark Reddish Brown)
3.      Sampel tanah Entisol                 = 5 YR, 3/2 (Dark Reddish Brown)
4.      Sampel tanah Vertisol                = 5 YR, 3/2 (Dark Olive Gray)
5.      Sampel tanah Ultisol                  = 5 YR, 4/6 (Yellowish Brown)
            Pada sampel tanah Vertisol yang kami amati dengan hasil 5 YR, 3/2 (Dark Olive Gray).
b. Tekstur Tanah
Tekstur tanah adalah pembagian ukuran butir tanah. Butir-butir yang paling kecil adalah butir liat, diikuti oleh butir debu (silt), pasir, dan kerikil. Selain itu, ada juga tanah yang terdiri dari batu-batu. Tekstur tanah dikatakan baik apabila komposisi antara pasir, debu dan liatnya hampir seimbang. Tanah seperti ini disebut tanah lempung. Semakin halus butir-butir tanah (semakin banyak butir liatnya), maka semakin kuat tanah tersebut memegang air dan unsur hara. Tanah yang kandungan liatnya terlalu tinggi akan sulit diolah, apalagi bila tanah tersebut basah maka akan menjadi lengket. Tanah jenis ini akan sulit melewatkan air sehingga bila tanahnya datar akan cenderung tergenang dan pada tanah berlereng erosinya akan tinggi. Tanah dengan butir-butir yang terlalu kasar (pasir) tidak dapat menahan air dan unsur hara. Dengan demikian tanaman yang tumbuh pada tanah jenis ini mudah mengalami kekeringan dan kekurangan hara. (Munir, 1996).
Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah (separat) yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) relatif antara fraksi pasir (sand) (berdiameter 2,00-0,20 mm atau 2000-200 µm, debu (slit) (berdiameter 0,20- 0,002 mm atau 200- 2µm) dan liat (clay) (<2 µm). Berdasarkan kelas teksturnya maka tanah digolongkan menjadi :
a) Tanah bertekstur kasar atau tanah berpasir berarti tanah yang mengandung minimal 70% pasir atau bertekstur pasir atau pasir berlempung.
b) Tanah bertekstur halus atau tanah berliat mengandung minimal 37,5 % liat atau bertekstur liat, liat berdebu atau liat berpasir (3 macam).
c) Tanah bertekstur sedang atau tanah berlempung (Hanafiah, 2009).
Berdasarkan Hasil Pengamatan, diperoleh bahwa tanah Vertisol mempunyai tekstur liat.
c. Struktur Tanah
Struktur tanah merupakan susunan  ikatan partikel  tanah  satu  sama  lain. Ikatan  tanah berbentuk  sebagai  agregat  tanah.  Apabila  syarat  agregat  tanah terpenuhi maka dengan sendirinya tanpa sebab dari luar  disebut  ped,  sedangkan ikatan yang merupakan gumpalan tanah  yang  sudah   terbentuk  akibat penggarapan tanah disebut clod (Baver,1961).
Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah. Gumpalan struktur ini terjadi karena butir-butir pasir, debu, dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik, oksida-oksida besi dan lain-lain. Menurut bentuknya struktur dapat dibedakan menjadi:
1.      Bentuk Lempeng (platy): sumbu vertikal  < sumbu horizontal, ditemukan di horison E atau pada lapisan padas liat
2.      Prisma: Sumbu vertikal > sumbu horizontal bagian atasnya rata, di horison B tanah daerah iklim kering
3.      Tiang: Sumbu vertikal > sumbu horisontal, bagian atasnya membulat, di horison B tanah daerah iklim kering
4.      Gumpal bersedut: Seperti kubus dengan sudut-sudut tajam. Sumbu vertikal = sumbu horisontal, di horison B tanah daerah iklim basah
5.      Gumpal membulat: Seperti kubus dengan sudut-sudut membulat. Simbu vertikal = sumbu horisontal, di horison B tanah daerah iklim basah
6.      Granuler: Bulat-porous, di horison A
7.      Remah: Bulat sangat porous, di horison A (Hardjowigeno, 1992)
Struktur tanah terbentuk akibat adanya penggabungan butir-butir primer tanah oleh adanya koloid tanah, humus, atau bahan kimia. Pada pengamatan struktur tanah diamati bentuk struktur, agregat tanah (ped)/ kelas struktur dan derajat struktur tanah.
Struktur lempeng mempunyai ketebalan kurang dari 1 mm sampai lebih dari 10 mm. Prisma dan tiang antara kurang dari 10 mm sampai lebih dari 100 mm. Gumpal antara kurang dari 100 mm sampai lebih dari 50 mm. Granuler kurang dari 5 mm sampai lebih dari 50 mm. Granuler kurang dari 1 mm sampai lebih dari 10 mm. Remah kurang dari 1 mm sampai lebih dari 5 mm (Hardjowigeno, 1987).
Pada saat pengamatan tentang srtuktur tanah entisol dengan  cara mengambil sebongkah tanah kemudian di pecahkan dengan cara dijatuhkan dari ketinggian tertentu sehingga bongkahan tanah acan terpecah secara alami.  bentuk tanah entisol termasik tipe remah yaitu butiran tanah saling mengikat seperti irisan roti, mempunyai ikatan cukup kuat, bersifat porus. Dan termasuk ke dalam klas halus dan mempunyai derajat yang lemah.
Berdasarkan hasil pengamatan di peroleh bahwa tanah Vertisol mempunyai tipe gumpal, kelas sangat halus, dan derajatnya kuat.
d.       Konsistensi Tanah
Konsistensi tanah adalah istilah yang berkaitan sangat erat dengan kandingan air yang menunjukkan manifestasi gaya-gaya fisika yakni kohesi dan adhesi yang berada didalam tanah pada kandungan air yang berbeda-beda. Setiap materi tanah mempunyai konsistensi yang baik bila massa tanah itu besar atau kecil (sedikit), dalam keadaan ilmiahataupun sangat terganggu, terbentuk agregat atau tanpa struktur maupun dalam keadaanlembab atau kering. Sekalipun konsistensi tanah dan struktur berhubungan erat satu samalain, struktur tanah menyangkut bentuk ukuran dan pendefinisian agregat alamiah yangmerupakan hasil dari keragaman gaya tarikan di dalam massa tanah. Sebaliknyakonsistensi meliputi corak dan kekuatan dari gaya-gaya tersebut (Hakim, 1986).
            Tanah dengan konsistensi baik mudah diolah dan tidak mudah melekat pada alat pegolah tanah. Sedangkan tanah yang berkonsistensi buruk merupakan kebalikannya. Konsistensi tanah dapat ditetapkan pada keadaan basah, lembab dan kering.
Berdasarkan percobaan yang kami lakukan, maka diperoleh hasil untuk tanah Vertisol kelekatannya VS, keliatan VP, konsistensi lembab ET, dan konsistensi kering VH.
Makin tinggi tingkat konsistensi tanah, maka pengolahan padatanah tersebut akan makin sulit. Sama halnya sebagaimana pengaruhtekstur dan struktur, konsistensi tanah juga memengaruhi perakarantanaman, infiltrasi, serta tingkat pengolahan tanah. makin tinggikonsistensi suatu tanah, makin terhambat perakaran suatu tanaman daninfiltrasi air, serta makin sulit pengolahan pada tanah. 

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    KESIMPULAN
Dari pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa setiap jenis tanah memiliki warna, tekstur, struktur dan konsistensi yang berbeda-beda tergantung pada jenis masing-masing tanah tersebut. Hal tersebut dapat berguna utuk membantu kita mengetahui kelembaban serta kesuburan tanah tersebut.
Vertisol memiliki notasi warna 5 YR 3/2 dengan nama warnanya  adalah dark olive gray dan bertekstur liat .Struktur tanahnya bertipe gumpal, dengan kelas sangat halus, derajatnya 3. Konsistensi basah kelekatan VS ( Sangat lekat) keliatan VP ( sangat plastis), konsistensi lembab ET (Sangat Teguh Sekali), konsistensi kering VH (sangat keras).

B. SARAN
praktikan harus lebih teliti dalam penggunaan buku munsell soil color chart agar dalam menentukan warna tanah dengan indera tidak salah

DAFTAR PUSTAKA

Baver, L.D. 1961. Soil Physics. John Wiley & Sons Inc. New york.
Hakim, Nurhajati dkk. 1986. 1996. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. UNILA, Lampung.
Hanafiah, Kemas A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Pt. Raja Grafindo Persada    Jakarta.
Hardjowigeno, S. 1992. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akapress. Jakarta.
Kohnke, H. 1968. Soil Physic. Tata Mc Graw- Hill Publishing. Company Ltd.: Bombay.
Majid, Abdul. 2009. “Sifat Fisika Tanah (Bagian 5: Konsistensi Tanah”. Jakarta:  Erlangga
Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia..  PT. Dunia Pusataka Jaya : Jakarta.
Poerwowidodo. 1991. Genesa Tanah, Proses Genesa dan Morfologi. Fahutan Institut Pertanian Bogor.
Tan, Kim. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Balai Penelitian The dan Kina : Bandung.




No comments:

Post a Comment