Wednesday, 9 April 2014

DERAJAT KERUT TANAH



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat penting peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. Ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenai tanah dikenal sebagai ilmu tanah. Komposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. Air dan udara merupakan bagian dari tanah. Oleh karena itu sangatlah penting untuk mempelajari ilmu tanah dan cara untuk melestarikannya.
Secara fisik tanah mineral merupakan campuran dari bahan anorganik, bahan organik, udara dan air. Masing - masing fraksi mempunyai ukuran dan sifat yang berbeda beda. Bahan anorganik secara garis besar dibagi atas golongan fraksi tanah yaitu :
1.  Pasir (0,05 mm – 2,00 mm) yaitu Tidak plastis dan tidak liat, daya menahan air rendah, ukuran yang besar menyebabkan ruang pori makro lebih banyak, perkolasi cepat, sehingga aerasi dan drainase tanah pasir relative baik. Partikel pasir ini berbentuk bulat dan tidak lekat satu sama lain.
2.  Debu (0,002 mm – 0,005 mm) yaituMerupakn pasir mikro. Tanah keringnya menggumpal tetapi mudah pecah jika basah, empuk dan menepung. Fraksi debu mempunyai sedikit sifat plastis dan kohesi yang cukup baik.
3.  Liat (<0,002 mm) yaituBerbentuk lempeng, punya sifat lekat yang tinggi sehingga bila dibasahi amat lengket dan sangat plastis, sifat mengmbang dan mengkerut yang besar.
Tanah mempunyai sifat yang mudah dipengaruhi oleh iklim, serta jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam jangka waktu tertentu.  Tanah dalam pertanian mempunyai peranan sebagai media tumbuh tanaman dalam hal tempat akar memenuhi cadangan makanan, cadangan nutrisi (hara) baik yang berupa ion-ion organik maupun anorganik.
Berat ringannya tanah akan menentukan besarnya derajat kerut tanah. Semakin tinggi kandungan liat, semakin besar derajat kerut tanah.Selain itu bahan organik tanah, bahan organik tanah berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan bahan organik tanah maka derajat kerut tanah makin kecil.

B.  TUJUAN
Mengetahui besarnya derajat kerut tanah dari beberapa jenis tanah dan membandingkan besarnya derajat kerut antar jenis tanah yang diamati.

 

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Derajat kerut tanah adalah kemampuan tanah untuk mengembang dan mengerut. Tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering).Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah diolah, mudah merembaskan air dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat akan sulit meloloskan air, aerasi jelek, lengket dan sukar pengolahannya sehingga disebut tanah berat (Sarief, 1986)
Dalam analisis agihan besar zarah, bahan tanah halus dipisahkan lebih lanjut menjadi tiga fraksi utama pasir, debu (lanau), dan lempung. Fraksi tanah ialah sekelompok zarah tanah yang berukuran diantara batas-batas tertentu (Notohadiprawiro,1998).
Tanah mempunyai ciri khas dan sifat-sifat yang berbeda-beda diantara tanah di suatu tempat dengan tempat yang lain. Sifat-sifat tanah itu meliputi fisika dan sifat kimia. Beberapa sifat fisika tanah antara lain tekstur, struktur, dan kadar lengas tanah. Untuk sifat kimia menunjukan sifat yang dipengaruhi oleh adanya unsur maupun senyawa yang terdapat di dalam tanah tersebut. Beberapa contoh sifat kimia yaitu pH, kadar bahan organik dan Kapasitas Pertukaran Kation (KPK). Setiap tanah memiliki sifat mengembang dan mengkerut (Aji, 2012).
Tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering). Berat ringannya tanah akan menentukan besarnya derajat kerut tanah. Semakin tinggi kandungan liat, semakin besar derajat kerut tanah. Selain itu, bahan organik tanah berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan bahan organik tanah, maka derajat kerut tanah semakin kecil (Notohadiprawiro, 1998).
Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah diolah, mudah merembaskan air dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat akan sulit meloloskan air, aerasi jelek, lengket dan sukar pengolahannya sehingga disebut tanah berat (Sarief, 1986).
Beberapa jenis tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengkerut (bila kering). Akibatnya pada musim kering karena tanah mengerut maka tanah menjadi pecah-pecah. Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi. Besarnya pengembangan dari pengerutan tanah dinyatakan dalam nilai COLE (Coefficient Of Linear Extensibility). (Hardjowigeno,2010)
Berbagai macam ukuran,tekstur dan srtuktur yang telah disebutkan diatas, sangat mempengaruhi derajat kembang atau mengkerutnya tanah. Dipandang dari segi fisika, tanah mineral merupakan campuran yang terbentuk dari butir-butir anorganik, rapuhan bahan organik, udara dan air. Pecahan mineral yang lebih besar biasanya terdapat di dalamnya dan dilapisi seluruhnya oleh koloida, dan bahan lain yang sudah menjadi halus. Kadang-kadang butir-butir mineral yang lebih besar menguasai dan menjadikan tanah berkerikil atau berpasir. Dapat juga terjadi sebagian terbesar koloida anorganik; dalam hal ini tanah akan berciri lempung (Soegiman, 1982).


BAB 3
METODE PRAKTIKUM

A.    ALAT DAN BAHAN
Alat dan Bahan yang di gunakan adalah contoh tanah halus (<0,5 mm), botol semprot, cawan porselin, colet, cawan dakhil, jangka sorong dan serbet/ lap pembersih.
B.     PROSEDUR KERJA
a)      Diambil secukupnya tanah halus (Entisol), dimasukan ke dalam cawan porselin, ditambah air dengan menggunakan botol semprot, lalu diaduk secara merata dengan colet sampai menjadi homogen
b)      Pasta tanah yang sudah homogen tadi dimasukan kedalam cawan dakhil yang telah di ketahui diameternya dengan menggunakan jangka sorong (diameter awal)
c)      Cawan dakhil yang telah berisi pasta tanah tersebut dijemur di bawah terik matahari, kemudian dilakukan pengukuran besarnya pengerutan setiap 2 jam sekali sampai diameternya konstan (diameter akhir)


BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  HASIL
No.
Jenis Tanah

Pengamatan Ke
1
2
3
4
5
6
1.
Vertisol
Ǿ1
3,56
3,45
3,27
3,17
2,77
2,77
Ǿ2
3,51
3,43
3,17
3,17
2,76
2,76
X
3,54
3,44
3,22
3,17
2,77
2,77
2.
Entisol
Ǿ1
3,53
3,47
3,31
3,31


Ǿ2
3,53
3,46
3,23
3,23


X
3,53
3,46
3,27
3,27


3.
Andisol
Ǿ1
3,5
3,5
3,5



Ǿ2
3,415
3,145
3,145



X
3,45
3,4
3,45



4.
Inseptisol
Ǿ1
3,54
3,45
3,16
3,16


Ǿ2
3,54
3,45
3,24
3,24


X
3,54
3,45
3,2
3,2


5.
Ultisol
Ǿ1
3,5
3,36
3,15
3,15


Ǿ2
3,5
3,34
3,185
3,185


X
3,5
3,35
3,167
3,167




Perhitungan:
1)      Tanah Vertisol
Derajat kerut  = diameter awal – diameter akhir    x 100%
                                        Diameter awal
                        = 3,54 – 2,77  x 100%
         3,54
                        = 21,75 %

2)      Tanah Entisol
Derajat kerut  = diameter awal – diameter akhir    x 100%
                                        Diameter awal
            = 3,53 – 3,27  x 100 %
 3,53
= 7,36%

3)      Tanah Andisol
Derajat kerut  = diameter awal – diameter akhir    x 100%
                            Diameter awal
= 3,45– 3,45  x 100 %
                                    3,45
= 0 %


4)      Tanah Inseptisol
Derajat kerut  = diameter awal – diameter akhir    x 100%
                                        Diameter awal
= 3,54 – 3,2  x 100 %
 3,54
=  9,60 %

5)      Tanah Ultisol
Derajat kerut  = diameter awal – diameter akhir    x 100%
                                        Diameter awal
= 3,5 – 3,167  x 100 %
 3,5
= 9,51 %

B.  PEMBAHASAN
Tanah dapat terbagi menjadi beberapa jenis yang masing-masing memiliki sifat yang berbeda-beda. Ada jenis tanah yang mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengkerut (bila kering). Akibatnya pada musim kering karena tanah mengerut maka tanah menjadi pecah-pecah. Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi. Besarnya pengembangan dari pengerutan tanah dinyatakan dalam nilai COLE (Coefficient Of Linear Extensibility) atau PVC (Potential Volume Change = Swell index = index pengembangan). Istilah COLE banyak digunakan dalam bidang ilmu tanah (pedology) sedang PVC digunakan dalam bidang engineering (pembuatan jalan, gedung-gedung dsb) (Hardjowigeno, 1993).
Semakin tinggi kandungan liat, semakin besar derajat kerut tanah. Selain itu, bahan orgaik tanah berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan bahan organik tanah, maka derajat kerut tanah semakin kecil. (Notohadiprawiro, 1998). Beberapa tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering). Akibatnya pada musim kering karena tanah mengerut maka menjadi pecah-pecah. Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi. (Poerwowidodo, 1991). Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah diolah, mudah merembaskan air dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat akan sulit meloloskan air, aerasi jelek, lengket dan sukar pengolahannya sehingga disebut tanah berat. (Sarief, 1986).
Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi derajat kerut pada tanah adalah berat ringannya tanah akan menentukan derajat kerut tanah. Semakin tinggi kandungan liat, semakin besar derajat kerut tanah. Selain itu, bahan organik tanah berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan bahan organik tanah, maka derajat kerut tanah semakin kecil. Semakin tinggi kandungan liat, semakin besar derajat kerut tanah. Selain itu, bahan orgaik tanah berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan bahan organik tanah, maka derajat kerut tanah semakin kecil. (Notohadiprawiro, 1998)
      Pada praktikum acara derajat kerut tanah diperoleh data derajat kerut untuk tanah vertisol yaitu :21,75 %; tanah entisol: 7,36 % ; andisol : 0 %; ultisol : 9,51 % dan inseptisol: 9,60 %. Hal ini menunjukkan bahwa derajat kerut yang terbesar ada pada tanah vertisol.
      Hal ini menunjukkan bahwa derajat kerut yang terbesar ada pada tanah vertisol. Tanah vertisol mempunyai kandungan liat yang mengembang tinggi, retakan dalam dan lebar yang berkembang selama periode kering.
   Tanah yang memiliki derajat kerut pada urutan kedua adalah tanah entisol, tanah Entisol dicirikan oleh kenampak kurang mudaan dan tanpa horizon genetic alamiah juga hanya mempunyai horizon-horizon permulaan. Entisol yang berkembang dari bukit pasir mempunyai nilai budidaya pertanian terbatas. Inseptisol biasanya dicirikan oleh stratifikasi. Tekstur dihubungkan dengan laju dimana air mengendapkan alluvium maka tanah ini cenderung bertekstur kasar di dekat arus air dan bertekstur halus di dekat tepi-tepi luar dari dataran banjir.
            Tanah yang memiliki derajat kerucut pada urutan ketiga adalah ultisol, yg terbentuk dari pencucian dengan sifat tanah basa dan berkembang dibawah iklim panas sampai tropik. Ultisol lebih hebat dilapukkan, tanah ini juga mempunyai horizon argilik (lempung) dengan kejenuhan basa lebih rendah dari 35 %. Hal ini membuktikan bahwa pada tanah basa dengan kandungan bahan organic rendah, menyebabkan derajat kerut yang ditimbulkan besar.
            Tanah yang memiliki derajat kerut pada urutan keempat adalah inceptisol. Pada tanah Inseptisol profilnya mengandung horizon yang diperkirakan terbentuk agak cepat dan kebanyakan hasil dari perubahan batuan induk. Horizon tidak menggambarkan pelapukan yang hebat (Buckman, 1982).
              Dari praktikum yang telah dilakukan bahwa masing-masing jenis tanah mempunyai derajat kerut yang berbeda-beda. Hal tersebut disababkan oleh beberapa faktor, yaitu berat ringannya tanah akan menentukan derajat kerut tanah. Semakin tinggi kandungan liat, semakin besar derajat kerut tanah. Selain itu, bahan orgaik tanah berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan bahan organik tanah, maka derajat kerut tanah semakin kecil.  (Kohke,1968)
              Untuk setiap tanah memiliki derajat kerut yang berbeda. Tergantung jenis tanah yang di amati. Atau mungkin dalam pengukuran menggunakan jangka sorong tidak teliti, atau terjadi kesalahan teknis. Yang akan berdampak pada hasil praktikum.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1.    Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa derajat kerut untuk tiap-tiap jenisnya berbeda satu sama lain. Derajat Kerut untuk jenis tanah Vertisol adalah 15,8 %.

B. SARAN
Pada saat kita melaksanakan praktikum harus bisa lebih teliti dan berhati-hati saat menggunakan alat laboratorium yang ada. Dan cermat dalam penentuan angka menggunakan jangka sorong.

DAFTAR PUSTAKA

Aji, Soeharto. 2012. Analisis Derajat Kerut Tanah.   http://ajiver.blogspot.com/2012/12/laporanpraktikum-dasar-dasar-ilmutanah.html. diakses tanggal 3 April 2014
Buckman, Harry O. 1982. Ilmu Tanah. Bhatara Karya Aksara, Jakarta.
Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah Dan Redogenesis. Akedemika Presindo. Jakarta.
Hardjowigeno. S., 2010.Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta.
Kohnke, H. 1968. Soil Physic. Tata Mc Graw- Hill Publishing. Company Ltd, Bombay.
Notohadiprawiro, Tejoyuwono. 1998. Tanah Dan Lingkungan. Direktorat
Pendidikan     
Poerwowidodo. 1991. Genesa Tanah, Proses Genesa dan Morfologi. Fahutan.
            Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sarief, Saifuddin.1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana : Bandung.
Soegiman. 1982 . Ilmu Tanah . Bhratara Karya Aksara, Jakarta

No comments:

Post a Comment